21 Feb 2026

Namanya adalah Muhammad bin Abi Bakar bin Ayyub bin Sa’d bin Hariz bin Makki, Zainuddin Az-Zur’I Ad-Dimasqi Al-Hambali.
Nama panggilannya adalah Abu Abdillah, sedang nama laqab atau julukan atau gelarnya adalah Syamsuddin.
Dia terkenal dengan nama Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah yang diringkas dengan sebutan Ibnul Qayyim, dan nama inilah yang lebih terkenal daripada sebutan Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah.
Ayah dan nenek moyangnya berasal dari daerah pertama (Az-Zar’a) kemudian mereka pindah ke tempat kedua (Damaskus). Wallahu a’lamu.
IBADAH DAN AKHLAKNYA
Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan, “Ibnul Qayyim adalah seorang yang banyak beribadah dan melakukan tahajud, seorang yang shalatnya panjang, banyak berdzikir dan yang sangat tinggi mahabbah (kecintaannya kepada Allah).
Dia adalah seorang yang benar-benar bertaubat kepada Allah, banyak istighfar , yang sangat merasa butuh kepada Allah, dan yang tangannya terkepal dan banyak beribadah kepada Allah. Saya tidak pernah melihat dan mendengar orang yang lebih tinggi ilmunya darinya, tidak ada yang lebih tahu tentang makna Al-Qur’an, As-Sunnah dan hakikat iman.
Dia bukanlah seorang yang maksum (terbebas dari dosa), namun saya tidak pernah melihat orang seperti dia. Dia banyak mendapatkan ujian, disiksa beberapa kali, dipenjara bersama dengan Syaikh Taqiyyudin di Qal’ah, dan tidak sudi keluar meninggalkan Syaikh Taqiyyudin hingga dia meninggal.
Di penjara, dia membaca Al-Qur’an dan menyelami artinya, banyak bertafakkur hingga dari situlah dia banyak merengkuh kebaikan. Dengan itu pula, dia dapat merasakan hidup yang sebenarnya. Dengan sebab dipenjara itu pula dia dapat menguasai ilmu makrifat, menyelaminya dan banyak mengarang buku dalam bidang ini.
Ibnul Qayyim melakukan haji beberapa kali. Dia tinggal di Makkah. Dan, penduduk di sana menuturkan bahwa dia adalah seorang yang banyak beribadah dan banyak melakukan thawaf sehingga membuat orang lain terkagum-kagum.
Ibnu Katsir pernah berkata, “Di zaman kami, saya tidak pernah melihat orang yang lebih banyak ibadahnya dibanding Ibnul Qayyim. Ibadahnya (shalatnya) dapat ditandai yaitu dengan memanjangkannya, memperlama ruku’ dan sujudnya, sampai-sampai terkadang teman-temannya mencelanya, namun dia tetap tidak merubahnya. (Al-Bidayah wa An-Nihayah. 14/202)
Ibnu Hajar mengatakan, “Usai selesai shalat Subuh, Ibnul Qayyim biasanya tidak meninggalkan tempatnya, dia berdzikir kepada Allah sampai datang waktu siang, sambil berkata, “Ini adalah bagian dari waktu pagiku. Jika aku tidak menggunakannya untuk duduk berdzikir, maka kekuatanku akan melemah.”
Dia juga berkata, “Dengan kesabaran dan kefakiran, maka anda akan memperoleh keutamaan dalam agama.”
Dan dia juga berkata, “Seorang yang berjalan haruslah mempunyai tujuan dalam perjalanannya itu, harus pula mempunyai ilmu yang memberitahukan dan menunjukkannya.
Ibnu Katsir berkata, “Ibnul Qayyim adalah seorang yang sangat baik bacaan dan akhlaknya. Seorang yang sangat penyayang, tidak pernah dengki kepada orang lain dan tidak pernah pula menyakiti mereka. Dia tidak pernah menzhalimi dan mengejek orang lain. Dia sangat tawadhu’, banyak kebaikannya dan mempunyai akhlak yang sangat terpuji. (Al-Bidayah wa An-Nihayah 14/202)
*Disalin dari 60 Biografi Ulama Salaf, karya Syaikh Ahmad Farid, hal. 822, 825-826.
#Semoga dapat kita teladani, tak lupa kita menghormati dan menyayangi mereka, dan tidak mencela mereka para ulama salaf kita.